Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Maret 2008

Remy Sylado

Remy Sylado. Namanya tenar berkat beragam novel yang lahir dari buah pikirannya. Sayang, tak banyak yang tahu sosok pria kelahiran 12 Juli 1945 ini pernah disekap pemuda Partai Komunis Indonesia (PKI).

Saat itu, laki-laki yang mempunyai nama asli Yapi Panda Abdiei Tambayong ini berprofesi sebagai wartawan harian di Semarang. Dia berhasil memberitakan aksi anarkis pemuda PKI di Bandung ketika merusak sebuah bioskop.

Zaman itu, gerakan PKI sangat kuat di seluruh Jawa. Mereka mempunyai aturan agar tidak ada film asing yang diputar di bioskop Indonesia. Menggunakan nama Panitia Pengganyangan Film Imperialis Amerika Serikat (Papfias), puluhan pemuda itu menghancurkan Bioskop Majestik yang memutar film koboi berjudul "Beau Ank".

"Tidak disangka, pimpinan redaksi menjadikan berita itu headline. Alhasil, massa PKI marah. Mereka mengancam dan melempari kantor kami," kisah wartawan senior ini.

Pemberitaan itu tidak membuat Remy disekap oleh PKI. Remy justru menjadi tawanan sejenak oleh PKI ketika berkunjung ke rumah kakaknya di Yogyakarta. Tahun itu memang sedang gencar-gencarnya penumpasan terhadap gerakan PKI. Di Stasiun Tugu, dirinya melihat sebuah plang yang berisi tulisan PKI dan disertai mantel organisasinya yang seharusnya sudah dicopot.

"Saya melihat plang itu di salah satu bagian di stasiun. Saya kaget dan hendak mencopot tulisan tersebut. Tiba-tiba ada serikat buruh PKI yang melihat. Dalam sekejap, saya ditangkap dan dibawa ke salah satu ruang di stasiun yang sempit dan agak gelap," kenangnya.

Dia pun lantas diinterogasi dan ditanyai macam-macam. "Ketika saya menyebutkan nama, mereka langsung berteriak â€~Lah iya ini, kamu ini'. Saya menerka bahwa mereka membaca berita yang saya tulis itu. Tetapi saat penyekapan tersebut, saya diperlakukan manusiawi," ungkap pria yang menghabiskan masa kecil di Semarang ini.

Beruntung, dia bisa meloloskan diri saat penjagaan lengah. Sekuat tenaga, Remy lari dari penyekapan dan menaiki kereta yang tiba di Stasiun Tugu.  Setelah peristiwa itu, dirinya dipercaya memegang berbagai media di Bandung dan menjadi penulis resensi film dan kritikus musik di berbagai media.

Berbekal Penjualan Rekaman, Remy Beli Rumah

Sekira tahun 1983, Remy memutuskan meninggalkan dunia jurnalistik. Dengan berbekal kemampuan bermusik, dia dan beberapa temannya membuat album rekaman. Hasilnya, pada tahun itu, Remy bisa membeli sebuah rumah di kawasan Cipinang Muara yang ditempatinya hingga kini.

"Sampai sekarang, saya juga masih sering diminta menulis di salah satu kolom media massa. Yang pasti saya tetap menulis, namun kalau harus menjadi wartawan atau redaktur, saya pasti akan menolak," ujarnya tersenyum.

Hasilkan Novel Indah Melalui Mesin Ketik

Banyak orang yang tidak menyangka bahwa berbagai novel indah milik Remy berasal dari mesin ketik tua miliknya. Remy bercerita, dia merasa terganggu jika dalam menulis karyanya menggunakan komputer.

"Saat saya mengetik dan saya salah, kita harus menghapusnya dengan tipe-x. Nah, saat itulah proses yang berlangsung menjadi progres. Kalimat yang saya hapus, akan berubah menjadi kalimat lain. Saat menunggu itulah ada proses pemikiran yang panjang. Ini hal yang asyik dalam menulis," paparnya.

Dalam proses pembuatan karya novel, lanjut Remy, tidak perlu terburu-buru. Alasannya, karya yang dihasilkan nantinya akan menjadi cerita berkarakter kuat dan hidup.

"Satu karya sastra yang memiliki 300 halaman, bisa saya kerjakan dalam waktu satu bulan. Tetapi bergantung jenis karyanya juga. Kalau membutuhkan riset yang panjang, bisa sangat lama," imbuhnya.

Beberapa novel karangan Remy antara lain Kerudung Merah Kirmizi yang menang berbagai festival, Kembang Jepun, Cau Bau Kan yang sempat dibuat versi layar lebar, Sam Po Kong, Kirigma (antologi puisi tertebal dan memecahkan rekor Muri), serta Boulevard de Clichy.

Selasa, 25 Maret 2008

Adrie Subono

JAKARTA - Panggung yang megah, tata cahaya yang menarik, teriakan penonton, band terkenal yang memainkan musik, pengamanan yang baik, tempat yang luas dan pertunjukkan berjalan lancar, adalah keadaan yang sangat diharapkan dalam setiap pertunjukkan. Hal itu tidak terlepas dari adanya perencanaan yang matang dan dukungan seorang promotor yang handal di belakangnya.

Adrie Nurmianto Subono, atau yang lebih di kenal sebagai Adrie Subono, adalah salah satu master promotor artis yang sukses di setiap konser yang digelarnya. Dengan tujuan menampilkan "live entertainment", ayah dari tiga orang anak ini mencoba mewujudkan impiannya agar setiap orang dapat melihat artis idolanya tampil di depan mereka.

Berbekal optimisme dan kerja keras dalam melakukan sebuah pekerjaan, dan disertai kedisiplinan, seakan menghapus segala rintangan yang menerpanya. "Tidak lupa dukungan keluarga sangat membantu," ujar pria kelahiran 11 Januari 1954 ini.

Bermula dari kecintaan menonton konser musik saat tinggal di Jerman Barat, Adrie selalu merasa rindu untuk menonton setiap konser yang digelar. Namun, sayangnya hobi itu terhenti lantaran dirinya harus menekuni bisnis perkapalan milik keluarga, dan tidak bisa menikmati konser-konser besar. "Hanya bisa dinikmati saat berlibur atau perjalanan dinas saja ke luar negeri," tandasnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada tahun 1994, seorang teman mengajaknya bergabung dalam pergelaran konser Saigon Kick. Tanpa pikir panjang dirinya menyatakan bergabung dalam pagelaran itu.

Sejak saat itulah karier Adrie di dunia promotor semakin menanjak. Hal ini membuat dirinya harus rela meninggalkan dunia perkapalan yang sudah ditekuninya selama 25 tahun.

"Karena ini bisnis yang belum pernah ditekuni oleh orang di Indonesia, pada tahun 1994 belum banyak orang yang menekuni bisnis ini. Padahal ini adalah bisnis yang menguntungkan," tukas penggemar irama blues ini.

Pengalaman adalah guru yang paling berharga, itulah prinsip yang di yakini oleh pria pencinta baju hitam ini. Dirinya pernah merasa kecewa, lantaran ada artis yang tidak bersedia tampil saat konser digelar beberapa hari lagi, dengan alasan yang bermacam-macam membuat pihaknya harus menelan pil pahit.

"Karena ini adalah dalam tahap pembelajaran dan bukan suatu adventurer, Jadi pekerjaan itu benar-benar harus ditekuni, mau pekerjaan itu enak atau tidak jika itu sudah menjadi suatu profesi ya kita harus kerjakan," ujar sosok yang dekat dengan wartawan ini.

Kesuksesan ternyata tidak membuat Adrie lupa diri. Suka duka saat menerjuni bisnis ini di beberkan olehnya dalam buku WOW, yang berisi seluk beluk bisnis promoter, berkaca dari pengalaman JAVA Musikindo yang diluncurkan pada Minggu (25/1/2004).

Dirinya berharap agar setiap promotor yang akan membuat suatu konser dapat memperhatikan bagian per bagian secara detail dan perhitungan yang cermat dan teliti, mulai dari gedung pertunjukkan yang memadai, sarana dan prasarana yang memadai serta keselamatan penonton perlu diutamakan

"Intinya banyak persyarat yang harus diperhatikan terlebih dahulu untuk melaksanakan suatu konser. Ada banyak sekali prosedur yang harus dipenuhi. Kalau ingin menjual 100 tiket, masak tempatnya kecil. Itu tidak bisa, dan harus dicari gedung pertunjukkan yang sesuai," tuturnya.

ÂÂ

Beda Agama Tak Membuat Perbedaan Prinsip

Keseriusan Adrie dalam dunia promoter tidak terlepas dari dukungan keluarga. Chrisje Fransz Subono adalah sosok wanita di balik kesuksesan pria kelahiran Jakarta ini. Pernikahan yang berjalan selama 30 tahun itu telah membuat dirinya mengenal sosok Adrie.

Perbedaan agama diantara mereka tidak menjadi masalah. Dengan adanya kedisplinan dan menghormati antar satu agama dengan agama lain membuat rumah tangga semakin hidup.

"Saya menerapkan prinsip demokrasi buat ketiga anaknya (Melanie, Christy, dan Adrian) untuk memilih agama. Karena pada dasarnya semua agama itu sama. Tidak ada yang mengajarkan sesuatu yang buruk," ujar Adrie yang memilih Islam, sementara Chrisje beragama protestan.

Keharmonisan di dalam keluarga ini juga ditunjukkan saat mengisi waktu di akhir minggu, dengan melakukan acara makan di luar, jalan atau melakukan berbagai kegiatan bersama yang membuat kegembiraan di dalam keluarga.

"Biar kesatuan di dalam kelurga tetap utuh, biar bagaimanapun harus kiat jaga. Karena waktu tidak akan kembali, ketika nanti anak-anak kita sudah berkeluarga berarti dia sudah menjadi milik orang dan mumpung mereka belum berkeluarga masih bisa kita ajak selalu weekend, tukas keponakan mantan Presiden BJ Habibie itu.

ÂÂ

Biodata

ÂÂ

Nama : Adrie Nurmianto Subono (Adrie Subono)

Tanggal Lahir : Jakarta, 11 Januari 1954

Orang Tua : Subono Mantofani (Ayah) dan Titi Srisulaksmi Subono (Ibu)

Isteri : Chrisje Fransz Subono

Anak : Melany Subono, Christy Subono dan Adrian Subono

Pekerjaan : Promotor Java Musikindo

Alamat : Jl Taman Metro Alam PL 1 Pondok Indah, Jakarta Selatan

ÂÂ

Jml Saudara :

Trulyanti Sutrasno, Adrie Nurmianto Subono, Syulie Subono, Askar Subono, Syani Subono

Kelompok perusahaan Kel. Subono Mantofani :

1. Java Musikindo
2. Citra Mantofani
3. Putralindo Persada
4. Amelia
5. Pasar Minggu
6. Paratama Sejati Guna
7. Wahana Amerta Perkasa
8. Buana Bangunsemesta

Senin, 24 Maret 2008

Seto Mulyadi

Kehilangan orang yang kita sayangi, pasti akan membuat kita sedih. Namun ada pepatah yang menyatakan, di mana ada musibah pasti ada hikmahnya. Hal ini yang dialami oleh anak dari pasangan Mulyadi Effendy dan Mariati.

Seto Mulyadi atau biasa dikenal dengan Kak Seto, ternyata menjalani masa suram sebelum terjun ke dunia anak. Berawal dari kematian sang adik Arief Budiman saat berumur tiga tahun akibat penyakit campak, membuat Seto mulai menekuni dunia anak.

Sehingga pernah suatu saat Seto dan Kresno Mulyadi (adik kembar Seto) pergi ke sebuah toko mainan, tiba-tiba terucap dari dua bersaudara ini untuk membeli salah satu boneka untuk sang adik. Namun, sang ibu Mariati dengan bijak meminta kedua anaknya untuk berdoa agar mendapat adik lagi. Akan tetapi, hingga keduanya beranjak dewasa belum dikaruniakan adik.

Seto juga tidak dapat menghilangkan pengalaman masa lalu saat gagal masuk Fakultas Kedokteran yang menjadi impian terbesarnya. Bahkan sangkin nekatnya, Tong -panggilan sayang Seto- pergi ke Jakarta dengan bermodal teman kenal di kereta.

Pengalaman pahitpun pernah dirasakan pria kelahiran 28 Agustus 1951 Klaten, Jawa Tengah ini. "Saya pernah menjadi pengaduk semen, tukang batu. Tukang parkir pernah saya lalui saat pertama kali berada di Jakarta," ujar Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak ini.

Sampai akhirnya, Tong melihat salah satu acara anak yang selalu ditangkan sore hari di Stasiun TVRI dengan asuhan Ibu â€~Sandiah' Kasur. Saat itu, hatinya tergerak untuk ambil bagian dalam acara tersebut. Dengan tekad yang kuat, Tong menghampiri rumah Ibu Kasur berharap dapat menyalurkan kecintaannya di dunia anak.

Pucuk dicinta ulampun tiba, saat menghampiri rumah Ibu Kasur malah bertemu dengan Bapak â€~Soerjono' Kasur. "Kemudian, saya meminta menjadi asisten Pak Kasur secara sukarela tanpa dibayar. Tanpa pikir panjang, Pak Kasur menerima saya menjadi asisten pada 4 April 1970. Hingga sekarang, saya jadikan tanggal itu sebagai tanggal yang bersejarah di dalam hidup saya," imbuh Pendiri dan Ketua Yayasan Nakula Sadewa ini.

Dari sinilah awal kegemilangan Tong mulai meningkat, hingga akhirnya Pak Kasur berpesan kepada Seto yang tidak bisa dilupakannya. "Dik, kalau saya mati. Adik yang harus melanjutkan perjalanan saya. Sejak saat itu, saya mulai giat dan aktif dalam menekuni dunia anak-anak," tutur Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia ini.

Dengan penghasilan yang didapatkannya, Tong berhasil mencapai sarjana Psikologi Universitas Indonesia. Setelah 37 berkiprah di dunia anak belum membuat Seto puas. "Karena jutaan anak-anak haknya masih dilanggar, misalnya dalam perceraian, kekerasan dengan mengatas namakan pendidikan, dan masih banyak yang diperdagangkan. Sehingga, saya mencoba untuk menumbuhkan minat generasi muda untuk meneruskan estafet Pak Kasur dengan membuat kelompok pencinta anak (Kompak)," kata mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara ini.

Bermoto â€~Bangsa yang besar adalah Bangsa yang mencintai anak-anak' membuat Seto konsisten terjun ke dunia anak-anak. "Walaupun saya ditawari untuk terjun di dunia politik, saya tidak menginginkannya. Dengan berat hati saya akan menolaknya, karena saya tidak mempunyai keahlian yang lain selain momong anak," tandas lulusan Fakultas Psikologi UI 1981 ini.

Seto berpesan, maraknya penculikan, penganiayaan dan perdagangan anak yang terjadi akhir-akhir ini membuat miris hati Tong. Sehingga orang tua harus berperan aktif dalam menjaga anak-anak walau dengan kesibukan yang menyita waktu dan perhatian orang tua. Bahkan, kalau perlu titipkan anak kepada orang yang bertanggung jawab penuh.

"Orang tua harus peduli terhadap hak anak, termasuk hak untuk mendapat perlindungan. Jadi orang tua harus sadar, bahwa anak tidak cukup mampu untuk melindungi diri sendiri. Di satu sisi harus dilatih langkah-langkah awal, sepert berani teriak, jangan pergi ke tempat yang sepi, memakai perhiasan yang belebihan. Dan orangtua harus mengetahui setiap detik di mana anak-anak berada," papar lulusan Program Pascasarjana Psikologi UI ini.

Keterbukaan adalah Kunci Utama Keluarga

Kesibukan Seto ternyata tidak membuat Deviana, sang isteri, komplain dalam urusan rumah tangga. Karena sejak dini, Seto telah mengajarkan kepada anak dan isterinya untuk belajar saling terbuka terhadap semua permasalahan.

"Hampir setiap Sabtu, kita melakukan Sidang Umum Permasalahan Rumah. Nah, disitulah kita mulai saling terbuka mengenai semua permasalahan di rumah. Saat itu juga kita saling kritik dan mengritik, sehingga tidak ada lagi masalah yang mengganjal di antara keluarga. Kalau perlu, setiap saya akan berkunjung ke suatu tempat sering juga mengajak keluarga. Agar mereka tahu, bagaimana pekerjaan yang dikerjakan oleh ayahnya," tandas ayah dari empat bersaudara ini.

Berjarak 18 tahun dengan Seto, tak membuat hati Devi menciut. Baginya, Seto merupakan sosok bapak, saudara dan sahabat dalam berbagi suka dan duka. Setopun sempat bernazar, jika suatu saat dirinya menikah dia akan mendongeng kepada anak-anak yatim piatu.

"Usai para tamu pulang, kita langsung melepas pakaian dan berganti dengan kostum biasa. Bahkan, isteri saya masih menggunakan sanggul dan langsung menuju Panti Asuhan Muslimin di Kawasan Keramat Raya untuk melaksanakan nazar saya," kenangnya.

BIODATA
Nama: Seto Mulyadi (Kak Seto)
Lahir: Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951
Agama: Islam
Ayah/Ibu: Mulyadi Effendy/Mariati
Istri: Deviana
Anak:
- Eka Putri Duta Sari
- Bimo Dwi Putra Utama
- Shelomita Kartika Putri Maharani
- Nindya Putri Catur Permatasari
Pendidikan:
- SD Ngepos, Klaten (1963)
- SMK, Klaten (1966)
- SMA St. Louis, Surabaya (1969)
- Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (S1, 1981)
- Program Pascasarjana Universitas Indonesia (Magister bidang psikologi, 1989)
- Program Pascasarjana Universitas Indonesia (doktor bidang psikologi, 1993)
Karir:
- Ketua Pelaksana Pembangunan Istana Anak-Anak Taman Mini Indonesia Indonesia (1983)
- Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia (1982-sekarang)
- Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Nakula Sadewa (1984-sekarang)
- Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta (1994-1997)
- Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (1998-sekarang)
Kegiatan Lain:
- Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (1983-1985)
- Director at-large International Council of Psychologists (1985)
- Anggota International Society for Twins Studies (1985-sekarang)
- Anggota Creative Education Foundation (1993-sekarang)
- Anggota World Council for Gifted & Talented Children (1994-sekarang)
Buku:
Anakku, Sahabat, dan Guruku (1997)
Penghargaan:
- Orang Muda Berkarya Indonesia, kategori Pengabdian pada Dunia Anak-anak dari Presiden RI (1987)
- The Outstanding Young Person of the World, Amsterdam; kategori Contribution to World Peace, dari Jaycess International (1987)
- Peace Messenger Award, New York, dari Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar (1987)
- The Golden Balloon Award, New York; kategori Social Activity dari World Children's Day Foundation & Unicef (1989)
Alamat Rumah/Kantor: Jalan Taman Cirendeu Permai 13, Jakarta 15419

Minggu, 23 Maret 2008

Adang Darajatun

Menjadi seorang polisi butuh perjuangan. Bahkan, tidak jarang banyak keputusan-keputusan yang harus dibuat bertentangan dengan prinsip atasan, teman, atau anak buah sekalipun. Termasuk keputusan yang dapat menyinggung perasaan orang lain.

Hal itu pernah dialami mantan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol Adang Darajatun. Dia bercerita, saat menjabat menjadi Kapolda Jawa Barat pada 2000, Adang sempat kehilangan teman demi menjaga prinsipnya untuk menjaga hal yang dianggapnya benar.

Kejadian itu bermula saat teman Adang semasa SMA meminta bantuan menyelesaikan suatu perkara. Namun, Adang melihat bahwa perkara tersebut tidak bisa ditolong. Sang teman marah dan meninggalkan dirinya. Mau tak mau, dia terpaksa merelakan kehilangan teman seperjuangan saat duduk di bangku sekolah.

"Karena masalah prinsip, pada hari itu saya kehilangan seorang teman yang akrab sejak SMA. Artinya, selalu ada risiko. Tinggal bagaimana kita bisa mengambil risiko itu," ujar pria kelahiran 13 Mei 1949.

Adang menyadari, dengan kedudukannya sebagai seorang polisi dia akan selalu berhadapan dengan permasalahan demikian. Itu membuat Adang selalu bertanya kepada dirinya saat diposisikan memilih, apakah layak orang tersebut dibantu atau tidak.

"Anda harus bisa introspeksi diri mengenai benar tidaknya orang itu bersalah. Jangan membantu orang yang salah. Walaupun nanti ada atasan atau teman yang mencaci maki kita karena tidak kita bantu, risiko itu harus kita ambil," tutur anak kelima dari enam bersaudara ini.

Ada duka, ada pula suka. Pengalaman menjadi polisi merupakan impian Adang sejak kecil. Keinginan dia mewujudkan impian sempat ditentang oleh ayahnya. Padahal, Adang berkeinginan keras menjadi polisi karena melihat sosok ayahnya yang seorang jaksa tinggi di Jawa Barat.

"Saat kelas III SMA, saya ngotot menjadi polisi. Lucu kan, beliau tidak memberikan izin dan saya mencari jalan lain yakni meminta izin ibu. Saya tidak tahu apakah itu adalah karakter yang terbentuk semasa kecil. Tetapi yang pasti, dari kecil saya sudah bercita-cita menjadi polisi," ungkapnya.

Dia masih ingat, tekad kerasnya menjadi seorang polisi berbuah ketidakhadiran sosok ayah saat pertama kali menaiki kereta ketika berjuang masuk Akabri tingkat I di Semarang, Jawa Tengah.

"Saya melihat semua calon taruna diantar orangtuanya, dipeluk, dan mendapat lambaian tangan saat kereta bergerak meninggalkan stasiun kereta api di Bandung. Tetapi, saya hanya seorang diri, tak ada yang mengantar. Hal ini tidak pernah saya ceritakan pada kedua orangtua karena khawatir mereka dihinggapi perasaan bersalah," kenangnya.

Adang mengakui, kekuatan terbesar dalam dirinya untuk dapat menghadapi tantangan ialah keluarga.

"Kalau ingin membangun bangsa yang baik, posisi keluarga sangat menentukan. Ini kalau yang saya lihat pada diri saya ya. Kebetulan saya lihat bapak dan ibu selalu memberikan contoh-contoh yang baik sehingga melekat pada saat saya berumur 18 tahun," ucapnya.

Komunikasi Menjadi Kunci Menjalin Hubungan dengan Keluarga

Adang Darajatun senantiasa menyempatkan diri berada di tengah keluarga. Bahkan, dia rela meninggalkan hobi bermain golf demi bersama sang cucu. Dengan demikian, komunikasi antar keluarga selalu terjaga.

"Bersama keluarga menjadi hal wajib. Setiap hari sabtu dan minggu, saya pasti bertemu dengan anak-anak dan mantu, juga cucu. Walaupun akhir-akhir ini saya sibuk sekali. Nah, itu juga keberanian dalam mengambil keputusan. Asal tahu saja, saya sudah satu tahun ini berhenti bermain golf," tuturnya.

Adang merasa bersyukur. Sebab, dengan kesibukan sebagai anggota kepolisian yang mengharuskannya pergi ke daerah, istri dan anak-anak tidak ada yang keberatan. Adalah Nunun Nurbaeti, wanita yang selalu setia mendampingi Adang.

"Adang adalah teman, sahabat, sekaligus kekasih, suami dan kakak. Dia teman diskusi yang baik. Walau kadang kami bertengkar. Itulah yang mewarnai kehidupan rumah tangga kami sampai kami dianugerahi empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan," ungkap Nunun penuh cinta.

Biodata

Nama : Komjen Pol Adang Darajatun
Tanggal Lahir : Bogor, 13 Mei 1949
Orang Tua : Alm. Achmad Djunaedi (Ayah) dan Alm. Ahadiah Wargadibrata (Ibu)
Isteri : Nunun Nurbaeti
Anak : Adri Achmad Drajat, Tuza Junius, Ratna Farida dan Muhammad Azara
Pekerjaan : Mantan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia
Alamat : Jalan Cipete Raya No. 39, Jakarta Selatan
Motto : Berikan Yang Terbaik

Jml Saudara : Enam bersaudara
1. Satria
2. Nugraha
3. Nucharan
4. Anwar
5. Adang Darajatun
6. Ratna Sari

Sabtu, 22 Maret 2008

Faisal Basri

JAKARTA - Nama Faisal Basri cukup memberi warna dalam panggung politik Indonesia. Pribadinya sederhana. penampilannya agak berbeda dari politisi kebanyakan. Jarang tampil formal, sepintas Faisal Basri bahkan seperti aktifis mahasiswa, kemana ia pergi selalu mengenakan tas ransel. Penampilan Faisal Basri yang sederhana itu ternyata tidak terlepas dari prinsip hidupnya yang juga tidak rumit. Bagi Faisal, hidup itu harus mengalir apa adanya. Tidak perlu ngoyo dalam mengejar sesuatu, yang terpenting bagaimana berbuat yang terbaik dan mempunyai manfaat.

Prinsip â€~mengalir' itu bagi Faisal berlaku di segala bidang kehidupan. Kehidupan pribadi pendidikan, karir, politik dan keluarga. Sebab itu kesehariannya diisi dengan berbagai aktifitas tanpa menerapkan jadwal yang kaku. Di tengah kesibukannya mengajar dan aktifitas politiknya, Faisal masih bisa mencurahkan perhatiannya kepada tiga anak dan istrinya. Saat waktu senggang ia menyempatkan diri mengantar anak-anak ke sekolah. "Ternak teri, anter anak, anter istri," canda Faisal sambil tergelak.

Faisal mengaku prinsipnya itu merupakan bentuk keyakinan dirinya bahwa perkara di dunia bukanlah tujuan sehingga dalam menghadapi persoalan Faisal merasa tidak perlu bersungut-sungut jika keinginannya tidak tercapai.

Menurutnya selama pekerjaan dijalankan dengan prinsip nothing to loose maka tidur pun menjadi nyenyak. "Kalau tidak ada beban, tidur jadi nyenyak," kata Faisal yang biasa tidur pukul 02.00 pagi ini.

Dalam kehidupan politik, prinsip itu pun ia terapkan saat dirinya undur diri dari PAN dan memilih menghabiskan waktu sebagai dosen. Saat mundur dari kancah politik, Faisal mengaku hanya mengikuti kata hatinya. Faisal bercerita saat bergabung dalam parpol, ia menganggap, kancah politik itu dapat menjadi alat efektif untuk menyumbangkan pikiran dan tenaganya dalam proses politik. Namun saat impiannya itu tak terpenuhi, ia pun cuek saja lengser dari jabatannya sebagai sekjen PAN.

Faisal tidak perduli dengan konsekuensi yang ia jalani menyangkut sikap vokalnya. "Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, sebab jika ingin menyenangkan semua orang kita juga harus bersiap juga untuk dibenci semua orang," terang nya.

Masa Remaja

Faisal lahir dan dibesarkan di Bandung, 6 November 1959 dari pasangan Hasan Basri dan Saidah Nasution. Semasa kanak-kanak, ayahnya bekerja di sebuah perusahaan percetakan di Jakarta. Saat itu Faisal dibesarkan di tengah kondisi keluarga yang pas-pasan. Demikian, Faisal mengaku sangat menyukuri apa yang dialaminya di masa kecil. Salah satunya adalah sikap toleran yang ditularkan ayahnya.

Faisal dibesarkan oleh kedua orang tua yang secara kultural berasal dari kalangan nahdiyin, namun mereka memasukan Faisal di madrasah Muhammadiyah,

"Saat saya salat shubuh, saya tidak membaca qunut. Saya juga tidak melakukan apa yang biasa dilakukan orangtua saya, yaitu tarawih sebelas rakaat, tapi ayah saya tidak keberatan," kisah cucu Adam Malik ini

Mungkin tidak ada yang menyangka saat SMA Faisal adalah sosok murid yang "kurang berprestasi. Saya suka bolos. Rapor saya banyak merahnya," kenang Faisal. Namun justru di masa ini lah ketertarikannya terhadap bidang ekonomi bermula saat ia membaca majalah Prisma. Saat itu persoalan ekonomi yang membuatnya tertarik adalah mengenai teori ketergantungan yang saat itu ramai dibicarakan orang.

Mungkin sebab itu, meski pernah berkiprah dalam jalur partai, dan pendapat politiknya sering dikutip media masa, Faisal lebih suka menamakan dirinya "analis ekonomi," karena pikiran-pikirannya dalam tulisan yang anti mekanisme pasar, Faisal dituding sebagai representasi kaum Sosial Demokrat.

Faisal sangat mengidolakan Nabi Muhammad sebagai pemimpin yang penuh teladan. Namun secara jujur ia mengaku tidak mampu jika harus mengikuti 100 persen apa yang dicontohkan nabi. Setidaknya menurut Faisal, Nabi harus menjadi rujukan. "Kalau saya, mungkin tidak bisa mengikuti contoh kepemimpinan nabi seratus persen. Mungkin 10 persen saja," ujarnya.



DATA PRIBADI



Nama

:

Faisal Basri

Tempat & tanggal lahir

:

Bandung, 06 November 1959

Status perkawinan

:

Menikah (Istri: Syafitrie; dengan tiga anak: Anwar Ibrahim Basri, 10 tahun, Siti Nabila Azuraa Basri, 8 tahun, dan Muhammad Attar Basri, 5 tahun)



PENDIDIKAN

· Sarjana Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Jakarta, 1985

· Master of Arts (M.A.) dalam bidang Ekonomi, Vanderbilt University, USA, 1988


PEKERJAAN

· Anggota, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)- sejak 2000

· Dosen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia-sejak 1981


PERJALANAN PEKERJAAN

1981-sekarang

Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

1988-sekarang

Pengajar pada Program Magister Akuntansi (Maksi), Program Magister Manajemen (MM), Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Pembangunan (MPKP), Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

1993-95

Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI)

1995-2000

Expert (dan Pendiri), Instutute for Development of Economics & Finance (Indef)

1999-2003

Ketua, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta

2000

Anggota Tim Asistensi Ekuin Presiden RI

2005-sekarang

Ketua Editor, Jurnal Kebijakan Ekonomi (JKE), diterbitkan oleh Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia


LAIN-LAIN

· Kolumnis Tetap, Harian Kompas, sejak 2001

· Kolumnis Tetap, Harian Bisnis Indonesia, sejak 2005

· Koordinator, Komisi Darurat Kemanusiaan (KDK) untuk Bencana Alam di Aceh dan Sumatera Utara, 2004-2005

· Anggota, Dewan Pakar Badan Komunikasi dan Informatika Departemen Komunikasi dan Informatika, 2005-sekarang


KEANGGOTAAN DALAM ORGANISASI PROFESI, POLITIK, DAN LSM

· American Economist Association (AEA), anggota

· Society for International Development (SID), anggota

· Partai Amanat Nasional (PAN): Pendiri; periode 1998-2000 sebagai Sekretaris Jenderal; 2000-01 sebagai Ketua yang membawahi bidang Penelitian dan Pengembangan; Januari 2001 mengundurkan diri

· Pergerakan Indonesia (PI), penggagas dan Ketua Presidium Nasional (2003-05), Ketua Dewan Pimpinan Nasional (Agustus 2005-sekarang)

· Gerakan Kepatutan, Deklarator, dideklarasikan di Yogyakarta, 4 Desember 2004


PENGHARGAAN

· Penghargan "Pejuang Anti Korupsi 2003," diberikan oleh Masyarakat Profesional Madani (MPM), Gedung Joang 45, Jakarta, 15 Januari 2004

· "FEUI Award 2005" untuk kategori prestasi, komitmen dan dedikasi dalam bidang sosial kemasyarakatan, Depok, 17 September 2005


PENELITIAN
Beberapa di antaranya:

1. Studi Evaluasi Perbandingan Angkutan Kereta Api dengan Angkutan Jalan Raya di Jawa, Madura, dan Sumatera Selatan, LPEM-FEUI - Perusahaan Jawatan Kereta Api, 1984.

2. Penelitian Ujicoba Prosedur Analisa Dampak Lingkungan Sosial: Perkembangan Kota Serpong (Amdal Sosial), LPEM-FEUI - Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, 1987.

3. Identifikasi Komoditi Industri yang Berpotensi Ekspor Tinggi, LPEM-FEUI - Bank BNI, 1990.

4. Restrukturisasi Industri di Indonesia, LPEM-FEUI - Bank Dunia, 1990.

5. Penjabaran Jakarta sebagai Service City, Pemerintah DKI Jakarta, 1995.

6. Studi Mengenai Hubungan Keuangan Pusat-Daerah. Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, 1997.

7. The Study on Trade and Investment Policies in Developing Countries: Indonesia. LPEM-FEUI - Institute of Developing Economies, Tokyo, 1997.

8. Prospek Ekonomi Indonesia 1998: Tahun Krisis Kepercayaan. Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance, 1997.

9. Studi Korupsi pada Proyek Bantuan Bank Dunia. Jakarta: Infid, 1999.


KARYA TULIS
Buku (karya sendiri, karya bersama, terjemahan, dan penyunting) diantaranya:

1. Olson, Mancur. Kebangkitan dan Kemerosotan Perkembangan Bangsa-bangsa, dari Pertumbuhan Ekonomi ke Stagnasi-Inflasi dan Kemandegan Sosial. Edisi Bahasa Indonesia. Penyunting. Jakarta: C.V. Rajawali, 1986.

2. Perekonomian Komoditas Primer. Jakarta: PAU-EK-UI, 1990.

3. Krugman, Paul R., dan Maurice Obstfeld. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan, Buku I: Perdagangan Internasional. Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: CV Rajawali, 1991. Penerjemah.

4. Krugman, Paul R., dan Maurice Obstfeld. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan, Buku II: Moneter Internasional. Edisi Bahasa Indonesia. Co-penerjemah dengan Haris Munandar. Jakarta: CV Rajawali, 1992.

5. "Potensi dan Peranan Cendekiawan dan Pengusaha Palestina dalam Perwujudan Negara Palestina Merdeka," dalam M. Riza Sihbudi & Achmad Hadi, eds., Palestina: Solidarifas Islam dan Tata Politik Dunia Baru. Jakarta: Pustaka Hidayah, 1992.

6. Metode-metode Kuantitatif dalam Ekonomi Internasional. Jakarta: PAU-EK-UI, 1992.

7. "Industri Manufaktur dalam Perekonomian Nasional: Posisi Usaha Kecil," dalam Rahardjo, M. Dawam (ed.), Usaha Kecil dalam Perekonomian Nasional. Jakarta: Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil, 1994.

8. Perekonomian Indonesia Menjelang Abad 21: Distorsi, Peluang, dan Tantangannya. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1995, 1997 (cetakan ketiga).

9. Monopoli dan Distorsi Ekonomi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996. Co-author.

10. Indonesian Economics Law Infrastructures. Tokyo and Jakarta: Jetro, 2001. Editor.

11. Perekonomian Indonesia: Tantangan dan Harapan bagi Kebangkitan Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2002.


Makalah, beberapa di antaranya:

1. "Kiat-kiat Jitu Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Sendiri. " Makalah, dipersiapkan untuk seminar "Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Sendiri dalam PJPT II," diselenggarakan oleh PWI Cabang Jawa Tengah, Magelang, 4-5 Februari 1994.

2. "Justifikasi Ekonomi atas KegiatanTanggungJawab Sosial Perusahaan (CSR) kepada Masyarakat." Makalah, dipersiapkan untuk "Seminar Pakar untuk Mengembangkan Konsep & Indikator Corporate Social Responsibility sebagai Upaya Meningkatkan Partisipasi Dunia Usaha dalam Pengentasan Masalah Kemiskinan." Diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan Laboratorium Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP-UI, Depok 29-30 Maret 1994.

3. "Beberapa Kecenderungan dalam Perekonomian Indonesia yang Berkaitan Erat dengan Aspek Kesehatan Menyongsong Abad Mendatang." Makalah, dipersiapkan sebagai bahan diskusi untuk Materi: "Kecenderungan Sosial Ekonomi yang Berkaitan dengan Kesehatan," pada Pelatihan dan Lokakarya Studi Analisis Kecenderungan Kesehatan Nasional dan Regional Tahun 1995. Diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta, 30 Oktober--4 November 1995).

4. "Inefisiensi Pembangunan dan Ekonomi Biaya Tinggi yang Membelenggu Kita." Makalah, disampaikan pada Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia III, Jakarta, 18 Januari 1996.

5. "Peranan Zakat dalam Mengatasi Persoalan Kemiskinan dan Ketimpangan di Indonesia." Makalah, disampaikan pada seminar "Pemanfaatan 7akat sebagai Salah Satu Usaha Pengentasan Kemiskinan Ditinjau dari Segi Hukum Agama, Ilmu Ekonomi, dan Manajemen, diselenggarakan Orsat ICMI New York, New York City, 8 Juni 1996. .

6. "Korupsi Kekuasaan dan Wajah Ekonomi Kita." Makalah, disampaikan pada seminar dengan tema "Menuju Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa," diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan, Jakarta, 26 Desember 1996. Juga dimuat pada berbagai surat kabar anggota Indef Writers Network (IWN). .

7. "Tantangan Pembangunan Infrastruktur di DKI Jakarta di Tengah Krisis Ekonomi." Makalah, disampaikan pada seminar sehari dengan tema "Dampak Krisis Ekonomi terhadap Pembangunan Infrastruktur di Wilayah DKI Jakarta," diselenggarakan oleh Badan Pimpinan Daerah Gabungan Pelaksana Konstruksi (B.P.D. Gapensi) DKI Jakarta, Jakarta, 22 April 1998.

8. "EU-Indonesia Cooperation: Political Party Perspective." Paper presented at the Conference on "The European Union and the Political Transition in Indonesia," organized by The Royal Institute of International Affairs and IEEI, London, March 29-30, 1999.

9. "Strengthening Civil Society toward Justice Economy." Paper presented at The International Symposium "In Search of Asian Civil Society in the Third Millenium: Comparative Perspectives on the Development of Civil Society in Japan and Indonesia," organized by The Center for Japanese Studies, University of Indonesia, Jakarta, 28-29 June 1999.

10. "Standardisasi dalam berbagai Sektor Kegiatan Daerah di Era Otonomi Daerah." Makalah, disampailkan pada Seminar Nasional Standardisasi dalam Memasuki Abad 21, diselenggarakan oleh Badan Standardisasi Nasional, Jakarta, 7-8 November 2000.

11. "Competition Policy and Its Problems, Trade and Investment in Indonesia." Paper, presented at the APEC Regional Seminar on WTO Issues: Investment and Competition Policies, organized by Department of Trade and Industry, Republic of the Philippines, Ministry of International Trade and Industry, Government of Japan, and Japan External Trade Organization, Makati City Philippines, November 29-30, 2000.

12. "Kebijakan Persaingan di Era Otonomi: Peranan KPPU," Makalah, disampaikan pada One Day Conference "Domestic Trade, Decentralization and Globalization," diselenggarakan oleh USAID, PEG, dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta, 03 April 2001.

13. "Competition Policy: An Indonesian Experience," Paper presented at "Finalization Workshop: Country Studies on Competition Policy," organized by Asian Development Bank, Manila, July 21-23, 2004.

14. "Indonesia Economic Outlook." Paper presented at "Bangkok Expert Group Meeting," organized by University of Tokyo and hosted by Bank of Thailand, Bangkok, February 22, 2005.

15. "Permasalahan, Tantangan, Prospek, dan Strategi Pembangunan Indonesia." Makalah, disampaikan pada Rountable Discussion Bank Indonesia, Jakarta, 28 Februari 2005.

Jumat, 21 Maret 2008

Chalid Muhammad

JAKARTA - Kehidupan masa kecil yang akrab dengan lingkungan terekam jelas dalam benak Chalid Muhammad. Sejak usia dini, dia memang biasa bermain di alam. Kecintaan dengan alam itu membawa Chalid menjadi pejuang lingkungan.

Chalid yang menghabiskan masa kecil di sebuah desa kecil Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, masih ingat betul bagaimana ia dan teman sepermainannya biasa menghabiskan waktu. Bermain lumpur di sawah, berenang-renang dipantai yang hanya berjarak 200 meter dari rumahnya dan menyusuri sungai Torangga mencari udang-udang kecil. Semuanya membuat masa kecil Chalid Muhammad begitu dekat dengan alam.

Chalid yang dibesarkan dalam asrinya alam Parigi mengaku, pengalamannya semasa kecil yang dekat dengan alam lumayan mempengaruhi perjalanan hidupnya saat ini hingga akhirnya menjadi aktivis lingkungan.

Keterlibatannya dalam dunia aktivis lingkungan berawal saat dirinya menjadi mahasiswa. Dia aktif dalam sebuah kelompok studi di kampusnya, Universitas Tadulako Palu.

Saat teman-teman sebayanya memilih menghabiskan waktu dengan pacaran atau menjadi mahasiswa "kupu-kupu" (mahasiswa yang sehabis kuliah langsung pulang ke rumah) Chalid malah berkumpul dengan teman-temannya di kelompok studi Ibnu Chaldun. Dia mendiskusikan berbagai macam persoalan dari politik sampai hukum.

Pada akhir 80-an, sebuah isu hangat merebak di tengah acara diskusi. Saat itu, empat dusun di taman nasional Lore Lindu di Sulawesi tengah akan ditenggelamkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Sebagai mahasiswa kelompok diskusi, Chalid dan teman-temannya merasa terpanggil ikut membantu masyarakat di desa itu untuk mempertahankan tanahnya dengan memberikan saran bagaimana mempertahankan hak mereka atas tanahnya.

"Desa mereka akan ditenggelamkan sama seperti yang terjadi di Kedung Ombo. Ketika itu kami berpikir, tidak benar sebuah pembangunan energi untuk masyarakat kota membuat masyarakat desa terusir dari tanah leluhurnya, di mana mereka memiliki hubungan batin dan sejarah terhadap desanya," kenang Chalid.

Selama melakukan advokasi itu, waktu Chalid terbagi antara ruang kelas dan hutan belantara. Dia menyempatkan diri menyusuri jalan setapak untuk menemui penduduk desa. Demi mencapai desa yang berada dalam hutan nasional Lore Lindu itu, Chalid dan teman-teman kelompok diskusinya menempuh perjalanan empat jam dengan berjalan kaki atau tiga jam perjalanan jika menggunakan kuda.

Seusai lulus sebagai sarjana hukum, Chalid sempat menjadi dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam Banjarmasin, namun itu tidak berlangsung lama. Chalid kembali terpanggil mengadvokasi masyarakat korban tambang saat dirinya berkenalan dengan seorang korban pertambangan di Banjarmasin yang membutuhkan bantuan hukum. Akhirnya, dia memutuskan mempelajari lebih dalam ilmu hukum pertambangan.

Dari sinilah pria kelahiran 1965 ini mulai intensif melakukan advokasi terhadap masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan konflik pertambangan. Pada 1994, Chalid bergabung dengan Walhi di Jakarta. Dia pun semakin larut dalam isu-isu lingkungan di tanah air karena dipercaya sebagai koordinator nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) yang berdiri pada 1996.

Menjadi aktivis lingkungan membuat Chalid kerap berinteraksi dengan masyarakat adat. Dia mengaku mengagumi beberapa tokoh masyarakat adat karena gigih berjuang membela hak meski diancam kekerasan.

Salah satu pengalaman yang tidak bisa ia lupakan adalah ketika melakukan advokasi di Paringin, Kalimantan Selatan pada 1992. Dia bertemu seorang warga desa yang mengalami kebutaan karena mempertahankan kebun karetnya.

"Dia sangat gigih memperjuangkan haknya, meski akhirnya dianiaya karena menolak pohon karetnya dibayar Rp75 rupiah per batang. Sama dengan harga satu batang rokok pada saat itu. Saya tidak bisa lupa karena saya tidak berhasil memperjuangkan tanahnya yang dirampas sebuah perusahaan tambang Australia," kisah Chalid sambil menerawang.

Antara Walhi dan Keluarga

Menjadi aktivis tidak bisa dibilang sebagai tugas ringan. Lantaran padatnya kesibukan membuat Chalid harus merelakan waktu lebih banyak dihabiskan di Walhi ketimbang untuk keluarga. Meski demikian, Chalid mengaku kurangnya waktu untuk keluarga tidak menjadi masalah besar yang menggangu. Sebab sang istri mendukung penuh aktivitasnya dan jarang mengeluh.

Sebagai seorang ayah, Chalid juga kerap merasakan kerinduan membuncah jika lama tidak bersua dengan kedua anaknya, Sakila Faliha (5) dan Ahmad Hisab (3). Untuk itu, jika ada waktu senggang Chalid lebih memilih menghabiskan waktu bersama kedua anaknya.

Buktinya, saat okezone mengajukan janji pertemuan wawancara dengan pria hitam manis ini, Chalid menyatakan keberatan. "Wah jangan hari Minggu dong. Saya sudah lama tidak bersama anak-anak," pintanya.

Menyiasati aktivitasnya yang padat, Chalid mengaku kerap meluangkan waktu untuk memandikan anaknya pada pagi hari atau sekadar mengantarkannya ke sekolah sebelum dia beraktivitas.

Saat ini, Chalid mengaku menikmati aktivitasnya. Hanya saja, dia merasa sedikit terganggu jika dianggap mendramatisir persoalan lingkungan. Padahal, tingkat kerusakan lingkungan di Indonesia semakin parah dan pemerintah kurang responsif.

"Dalam kasus-kasus lingkungan, pemerintah sering malah membela perusahaan daripada rakyatnya," tutur Chalid.

Disinggung mengenai rencana hidupnya ke depan, Chalid mengaku belum tahu apa yang akan dia lakukan kelak. Yang ada dalam benaknya, dia akan tetap konsisten berupaya memperjuangkan lingkungan hidup.(fit)

Nama : Chalid Muhammad

Tempat Tanggal Lahir : Parigi, 10 Desember 1965

Agama : Islam

Pendidikan : 1985-1990 Fakultas Hukum Universitas Tadulako Palu

Pekerjaan : - 1992 s/d 1994 Dosen Fakultas Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam Banjarmasin

- 1994 s/d 2005 Jaringan Advokasi Tambang
- 2005 s/d 2008 Direktur Eksekutif Walhi ()

Kamis, 20 Maret 2008

Setio Rahardjo

JAKARTA - Jabatan sudah pasti akan dicopot tidak membuat Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Setio Rahardjo berleha-leha. Ia masih sibuk saat ditemui di kantornya, lantai 7 Gedung Departemen Perhubungan Jalan Merdeka Barat, awal Maret 2007 lalu.

Setio masih sibuk menerima tamu, menggelar rapat maupun menandatangani tumpukan berkas yang dibawa seorang stafnya. Sementara, di lantai lain di Gedung yang sama isu adanya rapat evaluasi jajaran Dephub menyangkut pencopotan jabatannya, semakin berhembus kencang. "Masuk-masuk, tunggu ya," sapa purnawirawan TNI AL ini kepada okezone yang menemuinya.

Penampilannya sore itu sangat sederhana. Mengenakan seragam coklat, dan sandal jepit hijau. Tidak ada kesan sebagai pejabat yang super sibuk, meski banyak peristiwa kecelakaan transportasi di tanah air ini yang harus ditanganinya.

Nama Setio akhir-akhir ini semakin dikenal masyarakat, dan sering dikaitkan bila terkait kecelakaan transportasi. Tudingan sebagai salah satu pejabat yang bertanggungjawab selalu hinggap di pundaknya.

Setio memang agak kurang beruntung memangku jabatan ketua KNKT. Sejak pengangkatan dirinya sebagai Ketua KNKT, peristiwa demi peristiwa kecelakaan transportasi beruntun terjadi. Seperti kecelakaan Lion Air di Solo, Mandala di Medan, KM Senopati, Adam Air sampai yang terbaru dan menempatkan dirinya seperti telur diujung tanduk adalah terbakarnya KM Levina I. Setio memaklumi tudingan yang diarahkan kepadanya. Tapi Purnawiran TNI-AL berpangkat Laksda ini, merasa perlu untuk meluruskan persepsi yang berkembang di masyarakat yang menganggap KNKT adalah institusi yang paling bertanggung jawab atas buruknya kondisi keselamatan transportasi di Indonesia.

Saat menerima jabatan sebagai Ketua KNKT, resiko itu tak pernah terbayang dibenaknya. Awalnya, Setio hanya fokus mempelajari setiap seluk-beluk pekerjaan barunya."Saya tak membayangkan sama sekali resiko seperti yang saya alami saat ini. Saat baru menjabat, yang saya, pikirkan hanya mempelajari tugas-tugas," ujar Setio. "KNKT itu organisasi non stuktural di bawah Dephub, dan bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan. Tugasnya melaksanakan penelitian, dan penyelidikan kecelakaan transportasi. Saya (KNKT) lebih banyak bertugas, justru kalau peristiwa kecelakaan sudah terjadi. Setelah penyelidikan, baru KNKT membuat rekomendasi kepada menteri," jelas Setio.

Tugas ini, membuat KNKT jarang melaporkan hasil rekomendasinya kepada publik. "Kewajiban saya melaporkan rekomendasi ke menteri. Sesuai dengan Keppres, urusan ke masyarakat tunggu order menteri. Sampai saat ini sudah banyak yang saya rekomendasikan," kilahnya menanggapi pertanyaan mengenai jarangnya KNKT mempublikasikan temuannya ke publik.

Terus, kalau sudah banyak merekomendasikan penelitian mengenai keselamatan transportasi, kenapa masih banyak kecelakaan? Soal rekomendasi, menurutnya kadang-kadang sulit dalam penerapannya. Setio memberi contoh, ia pernah merekomendasikan jalur rel antara Lahat-Linggau, agar sementara tidak dioperasikan. Namun, rekomendasi itu ditolak, terutama oleh Pemda, dengan alasan akan memutus akses ekonomi. "Terserah, saya sudah berusaha semaksimal mungkin," katanya.

Sebagai seorang yang dibesarkan dalam "pelukan" Sapta Marga, Setio menyatakan siap diganti kapan saja. Namun mantan pilot TNI-AL ini merasa luka, saat pencopotan jabatannya disebut-sebut karena ketidakbecusannya mengemban tugas. "Lebih baik saya dibilang bodoh, daripada dianggap tidak mampu menjalankan tugas. Malu... saya," ujar Setio dengan suara bergetar.

Ia bercerita, suatu waktu, setelah dirinya menghadiri sebuah acara talk show di sebuah stasiun televise, ia dikerubuti wartawan dan ditanya mengenai isu penggantian jabatannya. Saat perjalanan pulang, ia kaget ketika seorang anaknya memberi kabar bahwa ia akan dicopot dari jabatannya sebagai Ketua KNKT. Kabar itu didapat anaknya melalui berita running teks, sebuah stasiun televise. Mendengar kabar itu, Setio shock juga. "Bunyinya â€~Ketua KNKT akan diganti'. Saya kok rasanya, seperti koruptor atau penjahat yah... dibegitukan," kisahnya sambil menerawang.

Isu pencopotan dirinya semakin terang, setelah Menteri Perhubungan Hatta Rajasa membenarkan kabar itu kepada pers. Mungkin Setio pun telah bertemu Hata Rajasa, seperti yang diberitakan media, dan mengetahui kebenaran kabar pencopotan dirinya. Kamis 1 Maret, Amaria Hasan, istri tercinta yang ia nikahi 34 tahun lalu ini datang ke kantor sang suami. Kali itu Amaria membantu mengemas barang kedalam beberapa dus.

"Istri memang memberi dukungan yang besar untuk saya, ia selalu membantu saya untuk sabar. Hikmahnya pasti lebih banyak," ujar pria kelahiran 1946 ini.

Di mata anak buahnya Setio adalah pribadi yang hangat, dan pemimpin yang cakap dalam memberi tugas. "Ia sering bercanda dan tidak one-man show," ujar Muhammad Yusuf wakil ketua KNKT.

Yusuf menambahkan, Setio berhasil meletakan blue print sistem kerja di tubuh KNKT. "Ketika dipimpin Pak Setio, KNKT baru memiliki pedoman dan arah bergerak," tukasnya.

"Kalau secara resmi nanti Saya diganti, nanti Saya mau "MC" dan "PM". Momong cucu dan jadi pengamat mall,"canda kakek dari 6 cucu ini, sambil tergelak ketika ditanya rencana ke depannya.

"Ya. Habis bagaimana, mungkin memang saya punya kesalahan. Baiklah semoga ketemu lagi di lain kesempatan," ujar Setio mengakhiri perbincangan sambil mengantar okezone sampai pintu ruangannya.



Biodata

ÂÂ

Nama : Setio Rahardjo

Pangkat : Laksamana Muda

Tanggal Lahir : Rangkas Bitung, 8 Januari 1946.

ÂÂ



Pendidikan

ÂÂ

Sekolah Dasar - SMA : 1952-1964

Naval Academy Air Navigation : 1964-1968

Pilot Training : 1971-1972

Naval Gun Fire Liasion Officer (USA) : 1976

Pilot Instructur : 1982

Air Force Staff College : 1986-1987

Naval Staff College (UK) : 1991

Bachelor Degree of Political Studies : 1996

ÂÂ

Karir

ÂÂ

1968-1971 : Navigator Udara Satuan Udara Armada Timur TNI-AL

1972-1984 : Pilot Satuan Armada Timur TNI-AL

1984-1987 : Komandan SQN 800

1987-1988 : Staff Operasi SQN 600

1998-1999 : Perwira Staf Operasi Satuan Armada Timur TNI-AL

1991-1993 : Palaksana Kesatuan Udara Armada Timur TNI-AL

1993 : Komandan Pangkalan Udara TNI-AL Juanda

1993-1995 : Komandan Satuan Udara Armada Timur TNI-AL

1995-1998 : Kepala Dinas Penerbangan TNI-AL

1998-2003 : Ketua Badan SAR Nasional

2003-sekarang : Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)

Rabu, 19 Maret 2008

Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib. Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini mengaku seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai Kanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan itu, pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah.

"Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah," katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. "Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal," ujarnya.

Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti -- yang berpangkalan di rumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan.

Selain manggung, ia juga menjadi kolumnis. Emha anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya.

Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat. Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha berikutnya.

Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Karirnya menanjak dan menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini.

Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media. Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Karya Seni Teater Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya. Bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama.

Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan `Raja` Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993). Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.

Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi: "M" Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994) Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997); Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); "Kitab Ketentraman" (2001); "Trilogi Kumpulan Puisi" (2001); "Tahajjud Cinta" (2003); "Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun" (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).

Pluralisme Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di sekitar panggung Masjid Cut Meutia.

Setelah salat tarawih terdiam, lalu sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, "Sholatullah salamullah/ 'Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/ Sholatullah salamullah/ 'Ala yaasin Habibillah/ 'Ala yaasin Habibillah..." Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan.

"Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat," ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid.

Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta saat itu, ia juga melakukan hal-hal yang kontroversial.

Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran. Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. "Ada apa dengan pluralisme?" katanya.

Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. "Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar," ujar Emha.

Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu.

"Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua," tutur budayawan intelektual itu.